Saturday, 20 March 2010

ONOM

ONOM adalah sebangsa makhluk halus,
berpusat di areal sebuah rawa seluas 947 ha,
Rawa Onom
namanya.
Orang tak boleh gegabah membicarakannya
sebab selalu
saja ada akibatnya. Begitu
kata penduduk Banjar, Ciamis.
ONOM itu sebangsa makhluk halus. Orang
Banjar, Kabupaten Ciamis,
menyebutnya sebagai siluman.
Siluman punya arti tersendiri untuk sebutan
kelompok
makhluk halus. siluman dikenakan kepada makhluk halus yang
dulunya
berujud manusia biasa. Namun karena
“ Ngahiang”
(menghilang), dan menjadi makhluk halus, maka
disebutnya
sebagai siluman.
Kata Sanusi lagi, sampai dengan tahun 1942
wilayah Kecamatan
Purwaharja ini dikenal sebagai Kampung
Siluman. Mengapa
disebut begitu, sebab orang mengganggap
bahwa kampung
itu masuk areal atau wilayah kekuasaan bangsa
onom.
Bangsa onom konon punya kerajaan, Pulo Majeti
namanya.
Hingga kini, wilayah bernama Pulo Majeti masih
tetap
ada dan hingga kini pula, banyak diziarahi orang
yang
datang dari mana-mana, hingga dari luar Pulau
Jawa.
“Bagi mata biasa, Pulo Majeti hanya berupa
gugusan
pulau kecil di tengah rawa bernama Rawa
Onom, seluas
947 ha. Namun bagi orang-orang tertentu, itu
adalah
sebuah kerajaan, ” tutur Mamun (50)masih
penduduk
sekitar situ.
Jurukunci Pulo Majeti, Bapak Omod
mengabarkan bahwa
yang berkuasa di Kerajaan Pulo Majeti adalah
Prabu Selang
Kuning. Istrinya bernama Ratu Gandawati. Dia
punya aparat,
yaitu Patih Kalintu dan abdi dalemnya adalah Mas
Bugel,Ki
Bedegel,Ki Rimpung dan Mas Jemblung. Setiap
saat mereka
berada di sana dan setiap saat mereka melayani
permintaan
para peziarah.
Sungguh menakjubkan. Sekarang abad 21 di
mana dunia
tengah menghadapi era teknologi canggih.
Namun demikian,
kepercayaan akan dunia lain masih tetap
dipertahankan.
Contohnya kekuatan Rawa Onom dan Pulo
Majeti ini.
Maka banyaklah orang berziarah dan bertapa di
sana untuk
minta berkah, seperti ingin diluluskan segala cita-
citanya,
ingin dapat jodoh, dapat kerjaan, sampai kepada
ingin
anak lulus ujian.
“Tapi berziarah ke Pulo Majeti segalanya harus
serius dan harus dilakukan dengan tertib dan
sopan.
Kalau ada tindak kesombongan diperlihatkan di
sini,
alamat akan ada risikonya !” tutur juru kunci.
Demikian pula yang diakui oleh beberapa
penziarah. Pernah
ada yang datang namun tak percaya atas
keberadaan hal-hal
gaib Pulo Majeti. Maka mendadak sontak
keanehan diperlihatkan.
Pernah seseorang terkencing-kencing lari sebab
katanya
ada binatang aneh mengejar-ngejar terus.
Sementara peziarah
lain hanya menatap
terbengong-bengong sebab apa yang ditakuti
orang itu,
malah tak terlihat oleh orang lain.
Suatu malam buta, tiba-tiba hujan turun dengan
deras,
disertai kilat menyambar-nyambar. Namun
selang beberapa
lama kemudian, hujan berhenti dan seluruh
pakaian pengunjung
mendadak kering seperti tak pernah terguyur air
sebelumnya.
Dihormati penguasa
Kerajaan Bangsa Onom di Pulo Majeti yang
dirajai oleh
Prabu Selang Kuning ini, kono dihormati pula
oleh aparat
pemda Kabupaten Ciamis. Percaya atau tidak,
beberapa
waktu yang lalu, bila di pemda akan
mengadakan perayaan
apa saja, seperti HUT Kabupaten atau HUT-RI
misalnya,
maka dari berbagai kalangan yang diundang,
bangsa onom
pun diundang pula.
Sampai dengan dekade 1980-an bahkan pada
acara-acara
perayaan khusus, panitia pernah menyiapkan
sebuah kuda
yang sudah dihias.
Kuda itu dibawa karnaval dalam keadaan
kosong, artinya
tanpa penunggang. Namun aneh, kuda itu
ngosngosan seperti
membawa beban berat. Konon, sebenarnya
kuda itu ditunggangi
oleh bangsa onom.
Di lingkungan pendopo juga, suka disediakan
sebuah kamar
khusus buat “undangan khusus” ini. Di dalam
kamar itu sudah dipersiapkan berbagai penganan
dan juga
pakaian baik pakaian untuk pria maupun untuk
wanita.
Kata orang tua pengatur tata-cara ini, bila ada
hal-hal
aneh, maka siapa pun jangan sekali-kali
menggubrisnya.
Namun suatu kali ada seorang istri pejabat yang
ngomongin
seorang tamu. Katanya ada tamu perempuan,
kerjanya makan
melulu. Tak lama sesudah itu, bibir istri pejabat
bengkak
mendadak. Dan penyakit bengkak sembuh
mendadak setelah
orang tua dari panitia minta maaf atas
kelancangan berbicara.
Namun seiring dengan perjalanan waktu, seiring
pula
dengan peningkatan wawasan keagamaan,
upacara-upacara
seperti ini sudah tak dilakukan di pendopo
Kabupaten
Ciamis.
Pemberontak
Prabu Selang Kuning, penguasa Kerajaan Pulo
Majeti ini,
dulunya manusia biasa juga. Dia adalah patih
kepercayaan
Kerajaan Galuh.
Oleh raja diperintah membangun wilayah baru
di daerah
Pulo Majeti. Patih lancang Kuning menerima
perintah
ini sebaik-baiknya sehingga di Pulo Majeti yang
semula
rawa, berubah menjadi istana hebat.
Namun Selang Kuning tak mau menyerahkan
hasil karyanya
kepada rajanya, melainkan dia mengangkat
dirinya sendiri
menjadi penguasa Kerajaan Pulo Majeti.
Untuk menghindarkan percekcokan dengan
dengan Kerajaan
Galuh, maka Prabu Selang Kuning mengajak
seluruh rakyatnya
pindah ke alam lain. Itulah bangsa onom.

No comments:

Post a comment

Terimakasih Telah Berkunjunjung, Budayakanlah Berkomentar. Maksih^^